Hubungi Kami

Testimoni

Terkena kanker bukan berarti akhir dari segalanya. Para perempuan hebat ini membuktikan bahwa mereka berhasil melawannya, sehingga jadi survivor kanker payudara. Simak deh kisahnya!

Divonis terkena kanker adalah suatu hal yang sangat mengejutkan bagi seseorang. Apalagi jika seorang perempuan divonis kanker payudara. Dunia seolah berhenti, shock, dan kaget pastinya. Bagaimana ya rasanya mengalami masa-masa sulit dan melewati pengobatan yang seringkali menyakitkan? Mari kita simak cerita beberapa perempuan hebat berikut ini!

*1. Irawati Nurjadin*, perempuan yang pernah bekerja menjadi seorang IT Consultant  bercerita pada *tahun 2010* lalu payudaranya terasa gatal, ketika digaruk lebih keras, terasa ada semacam benjolan di payudaranya. Saat itu, sang ibu langsung menyuruh Ira untuk pergi ke Singapura untuk cek ke dokter. Di negeri singa itu, Ira melakukan mammografi dan juga ultrasound. Dari situ, diketahui bahwa di payudaranya ada tumor sebesar lima cm.

Tak percaya hanya pada satu dokter dan rumah sakit saja, Ira memutuskan untuk pergi ke tiga dokter yang berbeda untuk mencari second opinion. Di rumah sakit terakhir, ia disarankan dokter untuk melakukan scanning. Ternyata, tak disangka-sangka tumor tersebut sudah ganas dan menyebar ke paru-paru. Dokter menyarankan Ira untuk segera dikemo, tak perlu menunggu terlalu lama.

*Kemoterapi pertama dijalani selama 6 kali* dengan jeda setiap 2 minggu. Setelah itu, tumornya sudah mengecil menjadi 1 cm. Karena itu dokter menyuruh Ira untuk istirahat dahulu. Ia pun tetap melakukan pemeriksaan tiap bulannya. Namun, saat bulan ketiga, kembali tumbuh benjolan menjadi 2 cm. Akhirnya dokter memutuskan agar Ira memakai obat kemo yang bisa dibawa ke mana-mana dan disuntikkan seperti infus. Tapi dengan begitu, Ira harus memasangnya 24 jam sehari dan tidak boleh dilepas sekalipun.

Beruntung Ira tak pernah merasakan tubuhnya sangat drop ketika habis kemoterapi. *”Tipe obat kemo itu ada macam-macam, semakin bagus kualitasnya, efek ke tubuh akan semakin sedikit. Banyak teman-teman di Jakarta yang kalau habis kemo bisa ngedrop badannya karena kualitas obatnya tidak sebagus obat kemo yang saya pakai. Alhamdullilah saya nggak pernah drop,”* ujar Ira.

Tapi ada satu kejadian yang menimpa Ira lagi. Desember 2012 kemarin ia sedang liburan bersama keluarga. Tiba-tiba Ira mengaku banyak kejadian aneh yang menimpa dirinya. “Aku seperti lupa ingatan, kehilangan keseimbangan, suka tiba-tiba jatuh,” imbuh Ira. Ia juga seperti orang linglung dan cara berjalannya diseret seperti nenek-nenek. “Yang biasanya aku rapi mengatur koper, tiba-tiba aku bisa memasukkan baju kotor atau baju basah ke koper,” tambahnya.

Akhirnya ketika pulang ke Jakarta, Ira langsung diboyong ke Singapura lagi oleh keluarganya. Ternyata setelah di MRI, *kankernya sudah menyebar ke otak*. Banyak air di kepalanya. Akhirnya Ira pun *dioperasi* dan *dipasangi selang di kepala*.

“Tapi setelah operasi, suamiku bilang bahwa mukaku terlihat jauh lebih segar. Di kepalaku sekarang ada selangnya,” imbuh Ira seraya meminta FIMELA Family memegang bagian kepalanya untuk memastikan bahwa di kepalanya memang ditanam selang.

Apa pesan Ira sebagai salah satu “pejuang kanker” kepada para perempuan?  “Jangan pernah takut ke dokter dan selalu periksa kesehatan payudara, terutama untuk kamu yang sudah berusia 35 tahun ke atas.” Ira berkata bahwa dirinya dulu tidak pernah melakukan mammografi walaupun umurnya sudah cukup. “Selain itu, kita perempuan juga harus makan teratur, bergizi, rutin berolahraga dan juga memiliki istirahat yang cukup,” tambah Ira. Kini, Ira sudah tak lagi bekerja di kantoran. Hari-harinya dilalui dengan aktif di komunitas Lovepink Indonesia, yang sebagian besar anggotanya adalah para survivor kanker payudara.

*2. Shanti Persada*, pendiri Komunitas Lovepink Indonesia yang didiagnosa terkena kanker payudara saat Maret 2010. Ketika itu ia datang ke dokter karena merasa di payudaranya ada kelainan. Payudara bagian kanan Shanti bengkak, bahkan setelah lewat masa mestruasi. Warna kulit payudaranya pun berubah, gatal, dan nipple-nya masuk ke dalam.

Saat pertama kali divonis kanker ganas stadium 3b, Shanti mengaku sangat kaget. Dunia seakan berhenti sejenak. Tapi Shanti mengukuhkan diri bahwa ia tak bisa terus larut dalam kesedihannya. Ia bertekad harus maju terus dalam hidup. “Ketika divonis kanker pertama kalinya, maka yang pertama kali terlintas di benak saya adalah anakku yang saat itu masih umur 11. Aduh sedih rasanya membayangkan jika di umur itu, dia tak punya ibu lagi. Saya juga memikirkan ibu saya yang berusia 80 tahun,” cerita Shanti yang bilang bahwa ia berjuang melawan kanker payudara ini demi kedua orang tersebut.

Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, Shanti merasakan efek yang sangat tidak mengenakkan. “Mulut nggak terasa apa-apa, kepala pusing, tubuh terasa lemas seperti tidak bertulang. Itu semua karena obat kemo menyerang semua sel-sel di tubuh kita, baik sel buruk maupun baik,” ujarnya. Selain itu, ia pun harus single drug chemo selama 14 kali. Dengan total 20 kali pengobatan dan mastektomi (pengangkatan payudara), selama satu setengah tahun, Shanti merasakan naik turun kehidupannya. Terkadang semangat, namun terkadang putus asa menyeruak dari dalam dada.

Namun, karena banyaknya dukungan dari keluarga, teman, dan kerabat, akhirnya Shanti menerima dengan ikhlas ujian hidup ini. “Jalani dan percaya saja bahwa Tuhan akan menyembuhkan melalui dokter dan obat,” ujarnya pada FIMELA Family.

“Yang membuat kanker tercetus dan menjalar dengan cepat adalah gaya hidup yang tidak seimbang, makanan, pola pikir dan yang paling penting tidak boleh stress.Sekarang hidupku lebih rileks, nggak ngotot harus ini harus itu, hidupku sekarang mengalir saja. Kitapun harus menikmati hidup, kesembuhan itu datangnya dari diri sendiri. Kalau bukan diri kita yang semangat untuk sembuh, ya kita akan sulit untuk sembuh,” tutup Shanti Persada dengan penuh senyuman.

*3. Rima Melati*, artis yang juga pernah menderita kanker payudara 22 tahun lalu bercerita bahwa sayang sekali bahwa dulu dirinya terlambat mengetahui bahwa Ia terkena kanker.

“Beruntung Tuhan masih kasih saya umur, karena itu saya dengan Ibu Linda (istri Agum Gumelar) membuat YKPJ (Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta) agar masyarakat tahu tentang kanker payudara beserta pengobatannya,” imbuh Rima.

Sekarang Rima tetap harus menjaga kesehatan, tidak boleh berlebihan melakukan semua hal. Selain itu, Ia juga berpesan pada kita para perempuan untuk selalu periksa dini kanker payudara. Ia bilang bahwa jamannya dahulu, alat deteksi seperti mamografi masih susah. Sekarang, setelah mudahnya alat pendeteksian dini kanker payudara seperti mobil mamografi, perempuan harusnya lebih peduli dengan kanker payudara.

Karena itu, yuk mulai sekarang kita lebih peduli lagi dengan kesehatan payudara kita, Moms!

https://m.fimela.com/family/dunia-ibu/inspiring-story/kisah-perempuan-hebat-yang-tak-lelah-melawan-kanker-payudara-131030i-page1.html

*4. Tuty Effendy* mengaku merasa terpukul saat mengetahui dirinya didiagnosis mengidap kanker payudara.

Tuty divonis kanker payudara di awal umur 30 tahun, tepatnya pada 2010, saat berada di puncak karir. Saat itu dia merasa “ada duri dalam dagingnya”, kemudian dia memeriksakan diri ke dokter.

“Shock pas pertama kali didiagnosa kanker payudara, kenapa saya yang kena,” ujar dia dalam sesi sharing Garda Medika Octobreast di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Kamis.

Dia baru bisa menerima diagnosa dokter sebagai pengidap kanker payudara dengan stadium 2B saat melihat tantenya yang juga merupakan survivor kanker payudara.

“Saya mendapat pengalaman dari tante saya yang juga pernah menderita kanker payudara. Saya melihat perjuangan tante saya yang selamat dari kanker payudara,” kata Tuty.

Tuty kemudian berobat ke Singapura dan menjalani kemo 12 kali yang membuat “rambut rontok dan kurus”. Dia juga harus menjalani mastektomi (operasi pengangkatan payudara) untuk payudara sebelah kiri.

“Puji Tuhan dukungan dari keluarga sangat membantu. Mereka selalu ada buat saya. Walaupun demikian, saya tetap merasa sendiri karena mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan,” ujar Tuty.

Pada 2013, dia mengetahui Love Pink dari temannya. Dia merasa perlu untuk bergabung dengan organisasi gerakan sosial yang mendukung para penderita kanker payudara itu.

“Karena saya pernah merasakan betapa berat menjadi seseorang yang pernah didiagnosa seperti itu,” kata dia mengungkapkan sebagai relawan.

“Karena semua orang yang terkena kanker tidak semua berujung mati,” tambah dia.
Editor: Monalisa

http://www.antaranews.com/berita/599357/kisah-survivor-kanker-payudara

*5. Dr. Felicia

Kanker payudara yang dialami dr. Feli datang tanpa gejala berarti hingga mencapai stadium 4. Suatu ketika, dr. Feli meraba payudaranya, dan menemukan payudara sebelah kanan terasa keras. Saat itu juga, beliau ditemani oleh sang suami pergi memeriksakan diri di salah satu rumah sakit di daerah Cirebon, tempat beliau dulu menetap. Dokter di Cirebon menyatakan bahwa beliau terkena kanker payudara dan sudah stadium 4, yang artinya kanker sudah menyebar ke jaringan yang lain.

Berdasarkan saran dari teman terdekat dan keluarga, dr. Feli memutuskan menjalani pengobatan di Singapura. Meskipun harus merogoh kocek yang dalam, semua dilakoni dr. Feli demi kesembuhannya. Dokter yang merawat di Singapura sudah menyatakan bahwa usia dr. Feli diperkirakan tinggal 7 – 8 bulan, secara medis. Vonis tersebut tidak menyurutkan semangat dr. Feli untuk meneruskan pengobatan. Menjalani kemoterapi menjadi pilihannya. Setiap 3 minggu sekali, beliau menjalani kemoterapi, dengan urutan : pemeriksaan darah, kemudian pemberian obat – obatan kemoterapi, dan malam harinya, di hari yang sama beliau kembali ke Jakarta. Proses ini dilakukan terus menerus selama kurang lebih 6 kali, dengan biaya per perawatan mencapai 60 – 75 juta rupiah.

Proses kemoterapi ini sudah merontokkan rambut beliau secara drastis Kini, beliau menggunakan rambut palsu (wig) sebagai penutup kepala. Kanker ini memberikan pengalaman fisik dan batin tersendiri bagi dr. Feli. Proses kesembuhannya sendiri meninggalkan janji beliau kepada Tuhan bahwa jika beliau sembuh, beliau akan menjadi orang yang menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada sebanyak – banyaknya orang di dunia. Berikut pesan beliau terkait kondisi kanker payudara dan keberhasilan beliau untuk sembuh :

Kanker payudara tidak menunjukkan gejala berarti pada penderitanya. Penyakit adalah salah satu cara Tuhan untuk memberitahu kita bahwa ada hal dalam diri kita yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.Sembuh dari kanker stadium 4 karena yakin akan pengobatan yang berlangsung, meminta bantuan kepada Tuhan, serta dukungan doa dari orang sekitar.Tidak ada yang tidak mungkin untuk disembuhkan selama kita yakin, kuat, dan terus berjuang

Edit [31 Agustus 2016] : Sekitar tahun 2016, ibu Felisia meninggal dunia. Tulisan ini tetap kami simpan sebagai bahan pelajaran untuk kita semua. Sewaktu akan posting artikel ini, kami memberitahukannya kepada beliau. Beliau meminta dikirimkan copy tulisan ini tetapi sampai beliau meninggal kami belum sempat menemuinya sehingga copy artikel ini kami serahkan kepada suami beliau.

Berhasil Sembuh dari Kanker Payudara Stadium 4, Ini Pesan dr. Felisia!

*6. Grace*

Saat divonis kanker payudara stadium 2A di akhir tahun 2012, sebagai seorang Ibu Tunggal, yang terbayang hanya wajah anak-anakku yang pada saat itu masih berusia 14 dan 12 tahun.

Setelah berdoa berkonsultasi ke medis dan non medis. Akhirnya saya memberitahu anak-anak saya bahwa saya terkena kanker payudara.

Dengan setenang mungkin saya sampaikan kepada mereka “mama kena kanker payudara”. Walau hanya beberapa saat mereka terdiam lesu, saya merasakan betapa hancur hati mereka mendengar hal itu. Dalam hati saya berteriak “ya Tuhan tolong kuatkan mereka”.

Perlahan mereka berlutut dan kemudian anak pertama saya perlahan memegang tangan saya dan dengan lirih berkata ,”bagaimana dengan kami kalau tidak ada mama lagi?” dan mereka berdua langsung menangis.

Mendengar itu saya baru merasa dunia runtuh, jantung saya terasa berhenti dan hati saya terasa hancur. Tuhan memang luar biasa baik. Dalam beberapa detik saya merasa mendapatkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa.

Saya berkata kepada mereka “jangan menangis sayang, kan mama belum kenapa-kenapa sekarang. Dengarkan mama, Mama tidak bisa berjanji mama pasti sembuh, karna hanya Tuhan yang punya kuasa menyembuhkan. Tapi mama berjanji mama akan berjuang keras sampai akhir untuk perang dengan kanker supaya bisa terus bersama-sama dengan kalian. Kita berjuang sama2 ya”. Kami bertiga berpelukan sambil menangis.

Janji itu yang membuat mereka mempunyai harapan, janji itu juga memberikan semangat kepada saya, bahwa “saya harus hidup”

Saya menjalani biopsy, operasi, 24 kali kemoterapi, 30 kali radiasi, treatment tulang dan obat lainnya.

Proses penyembuhan kanker itu memang sakit dan perjuangan yang panjang. Bukan hanya kepala botak, kuku hitam, muka menjadi seperti plastik, kehilangan rasa di bagian tubuh dll, akan tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana kita tetap positif dan tetap semangat berjuang.

Ditambah lagi masih harus bekerja untuk biaya medis, hidup dan anak-anak.

Akan tetapi saya sadar bahwa penyebab kanker saya adalah stress dan kepahitan, karna itu saya juga belajar merubah gaya hidup dan belajar merelakan. Mencoba lebih mengisi waktu untuk kegiatan positif, kegiatan sosial dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan saya, Tuhan sudah menyediakan jalan keluar dan bantuan. Dengan support dari keluarga, anak-anak dan orang mencintai saya pada akhirnya melalui perjuangan 1,5 tahun melawan kanker saya dinyatakan “clear” di tahun 2014.

Pelajaran terpenting yang saya dapatkan adalah waktu menunggu antrian dokter bersama puluhan pasien lainnya. Ada suara dalam hati yang bertanya “apa yang pasien-pasien ini harapkan dari dokter? Kesembuhan?”

Lama saya terdiam sampai saya menyadari bahwa jawaban yang benar adalah “mereka mengharapkan tambahan waktu”.

Waktu itu adalah berkat yang sangat berharga dan banyak kali tanpa sadar kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk orang-orang yang kita sayangi, selalu memandang kehidupan ini dari sisi positif dan menjalaninya dengan hati yang selalu bersyukur.

*7. Yolla Anggia*

Inilah yang dihadapi Yolla Anggia. Ketika ia sedang menanti-nantikan kelahiran buah hatinya yang ketiga, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ada kanker stadium 0 dalam dirinya. Meski masih dalam stadium awal, namun dunia serasa runtuh di depan mata wanita berusia 35 tahun ini.

“Saya berasa seperti dunia runtuh, mikirnya sudah kemana-mana. Tapi karena anak-anak masih kecil jadi saya harus bisa menerima ini. Saya merasa ini memang takdir yang harus saya jalani,” ungkap ibu 3 anak ini.

Berawal saat menyusui anak pertama, wanita yang akrab disapa Yolla ini merasakan payudaranya lecet, tepatnya dibagian putingnya. Keadaan tersebut berlanjut saat menyusui anak kedua hingga ke kehamilan anak ketiga dan lecetnya tidak kunjung mengering. Lebih parahnya lagi hingga keluar darah.

Yolla kemudian dirujuk ke dokter onkologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Karena saat itu posisinya sedang hamil jadi biopsinya direncanakan setelah melahirkan. Namun saat USG ada cairan di saluran ASI sehingga ASI-nya tidak bisa keluar jadi solusinya dibiopsi saat itu juga,” cerita Yolla mengenai kondisinya saat itu.

Kala itu usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan dan waktu baginya untuk mengambil keputusan semakin sempit. Ia didiagnosa mengidap *paget’s disease stadium 0*. “Biasanya kan ada benjolan, kalau saya di saluran susunya ada cairan. Katanya kalau paget’s disease ini dari saluran susu ke puting sehingga putingnya luka dan tidak kunjung sembuh,” jelas Yolla.

Maka diusia kehamilan 7 bulan, ia memutuskan untuk melakukan mastektomi. “Kalau lumpektomi, belum tahu nanti jaringan kankernya masih ada lagi atau tidak dan nantinya masih harus menjalani terapi. Sedangkan mastektomi langsung diangkat semuanya dan tidak usah melakukan terapi jadi saya memilih mastektomi,” kata Yolla.

Keputusan yang diambil pun didukung penuh oleh suami yang selalu menemaninya. “Suami saya mendukung keputusan saya, yang paling penting saya dan bayi sehat,” ujar Yolla. Ia juga mengatakan bahwa sebelum dilakukan mastektomi, dokter yang akan melakukan operasi tersebut sudah mengkonfirmasi dengan dokter kandungannya. Menurut mereka bahwa langkah yang diambil aman dan tidak memiliki dampak pada kandungannya sehingga ia bersedia untuk melakukan tindakan itu.

*8. Jane Odorlina Sitompul (Jane)* mengetahui ada kanker di dalam tubuhnya saat ultahnya pd tgl 28 Mei 2015 hari dimana dokter memberikan hasil dari pemeriksaan, penelitian, USG dan pemeriksaan lainnya yang menyatakan bahwa Jane positif mengidap penyakit yang semua orang tahu menakutkan. Ya, orang-orang menilai kanker adalah penyakit yang sangat menakutkan. Jane hanya bisa menangis mendengar apa yang dokter katakan kepadaku. Dia takut, sama seperti wanita lainnya yang sangat takut dengan apa yang ada dalam tubuhnya.

Dengan dukungan yang diberikan keluarga, masukkan dari pihak dokter, dan juga keinginan untuk sembuh, Jane memutuskan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui apakah penyakit ini sudah menyebar luas di dalam tubuhku atau tidak.

Tuhan memang baik, penyakit mengerikan ini belum menyebar ke bagian tubuh yang lain, dan dokter mengatakan Jane harus langsung melakukan tindakan operasi untuk menghindari penyebarannya ke bagian tubuh yang lain.

Akhirnya, pada tanggal 6 Juli 2015 Jane melakukan operasi pertama. Setelah tindakan operasi dilaksanakan, Jane mengikuti saran dokter untuk melajutkan ke tahap radiasi dan juga kemoterapi. Semua ini Jane lakukan dengan hati yang ikhlas, semua ini Jane lakukan dengan sukacita. Jane yakin dokter adalah perpanjangan tangan Tuhan.

*9. Rusmeini Subronto*

Bulan Mei 19 tahun yang lalu, Rusmeini Subronto divonis oleh dokter menderita kanker payudara. Berdasar pada pengalaman sahabatnya yang terkena kanker payudara memberikan peringatan tersendiri kepada Rusmeini untuk peka terhadap kesehatannya. “Sahabat saya mengingatkan untuk sering meraba payudara, apakah ada benjolan atau tidak. Ketika saya raba, kok di sebelah kiri saya ada benjolan?” ujar wanita yang akrab disapa Ibu Rus ini.

Kemudian pada bulan Oktober 1997, rutinitas check up tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja membawanya untuk kembali memeriksakan diri dan melakukan konsultasi lebih lanjut pada dokter mengenai benjolan yang ada pada payudaranya itu. Dokter menyimpulkan bahwa ada kanker stadium satu yang bersarang di payudaranya. Kemudian Rusmeini terbang ke Singapura untuk kembali memeriksakan dirinya di rumah sakit Mount Elizabeth.

“Hari Minggu saya tiba, Seninnya dilakukan needle biopsy. Dokter mengatakan bahwa benjolan itu harus diangkat kemudian dilakukan frozen section, untuk melihat CA (cancer antigen) itu ada di tingkat berapa. Ketika dilihat ternyata sudah ganas jadi malam itu juga langsung diadakan operasi pengangkatan,” cerita Ibu Rus.

Menjalani proses dari terdiagnosa hingga operasi yang begitu cepat tidak memberikan dampak signifikan bagi Rusmeini untuk terpuruk atas kondisi kesehatannya. Ia mengemukakan bahwa tidak menunda-nunda dan cepat mengambil keputusan, bahkan dalam keadaan mendesak sekalipun, adalah kunci baginya untuk terus survive menghadapi penyakit ini.

Usai operasi dilakukan, ibu berusia 63 tahun ini harus menjalani serangkaian kemoterapi. Awalnya kemoterapi tersebut dilakukan setiap hari. Walau sudah lupa detailnya, akan tetapi pada saat itu ia diharuskan bermukim selama dua minggu di Singapura berkaitan dengan tindakan paska operasi tersebut. Kemudian intensitasnya dikurangi menjadi sebulan sekali dan tiga bulan sekali. Setelah itu, ia disarankan melakukan check up dari tiga bulan, enam bulan hingga setahun sekali hingga saat ini.

“Saya waktu itu sempat down saat dokter bilang saya harus dikemo. Tahun 98 lagi krisis dan kemo itu mahal sekali tapi atasan saya bilang untuk tetap lanjutin saja,” ujar wanita yang hingga saat ini masih bekerja di Matari Advertising. Rusmeini juga mengaku tidak pernah terbayangkan kemoterapi itu seperti apa dan bagaimana. Ibu dua anak ini berpikir bahwa sebaiknya tidak mengetahui kemoterapi itu seperti apa dan memilih untuk menjalaninya saja.

Lima tahun berselang, Rusmeini kembali didiagnosa menderita kanker, namun kali ini paru-paru menjadi sarangnya. Awalnya dokter menyarankan untuk dilakukan kemoterapi agar sel kanker dibuat mengecil namun setelah beberapa kali kemoterapi dilakukan, operasi pengangkatan cancer antigen tersebut tak terhindarkan. Setelah operasi dilakukan, ia kembali harus menjalani kemoterapi dan radiasi.

Usai berjuang melawan kanker payudara dan paru-paru, Rusmeini kini menjadi tempat curahan hati para penderita kanker lainnya, karena baginya sharing memiliki peranan penting untuk mengurangi beban penyakit yang diderita. Ia menambahkan bahwa seseorang yang pernah berjuang melawan penyakit tersebut adalah tempat yang cocok untuk berbagi. “Orang yang kena CA, kalau tidak punya tempat untuk diskusi, akan punya pemikiran sendiri yang menggerogoti hati dan pikirannya. Kalau kamu sakit dan yang memberi saran adalah orang yang pernah mengalami, mereka akan merasa lebih nyaman karena sama-sama pernah merasakan,” ungkap ibu dua anak ini.

Rusmeini menekankan bahwa peranan lain untuk tetap bertahan melawan penyakit adalah dengan mengikuti apa yang dikatakan dokter, menjalani kegiatan yang disukai, dan tidak memikirkan sesuatu yang kita tidak bisa ambil keputusannya. Ia hanya memikirkan apa yang bisa ia ubah. “Seperti apa yang Stephen Covey bilang, circle of influence atau circle of concern. Kalau kita tidak bisa ubah ya concern aja. Tapi kalau kita bisa ubah berarti masuk ke circle of influence. Energi kalau positif bisa mengubah sesuatu jadi lebih semangat,” jelasnya. “Dan tentu saja tidak lupa selalu berdoa kepada Allah SWT,” tambah Rusmeini.

*10. Maylania*, kini menginjak usia 43 tahun. Saya ingat sekali di pagi hari tanggal 28 September 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun anak pertama saya, saya divonis menderita kanker payudara di bagian kanan. Masih dalam keadaan shock, saya menolak untuk percaya. Saya merasa ada keluhan di bagian kiri, kenapa payudara kanan saya yang ada pengapuran? Pasti dokternya salah. Payudara kiri saya hanya terdapat benjolan yang boleh diambil atau tidak. Saya merasa tidak mungkin. Namun, setelah saya cek di tempat lain, diagnosanya tetap sama. Saya kanker payudara bagian kanan.

Sore harinya, saya mendatangi acara ulang tahun anak saya yang ke 7 tahun. Saya hanya terduduk di pojok ruangan. Teman-teman anak saya satu per satu mulai berdatangan bersama mama-nya. Saya menangis mengingat bahwa anak saya sebentar lagi akan kehilangan saya sebagai mama-nya. Bagaimana nanti di ulang tahunnya yang ke 8 atau ke 9? Saya tidak lagi bisa hadir mendampinginya. Lalu nanti kalau temannya ulang tahun, siapa yang akan menemaninya ke acara ulang tahun temannya? Saya menatap anak saya yang sedang bahagia bersama papanya. Saya tidak tega membayangkan anak saya sedih ketika saya tidak ada nanti.Hanya semua itu yang ada di pikiran saya. Kalau kanker, ya sudah pasti akan meninggal. Tidak ada harapan untuk bisa sembuh.

Puji Tuhan, operasi saya berjalan lancar. Sebulan setelah operasi, saya menjalani kemoterapi selama 6 kali setiap seminggu sekali. Rambut saya perlahan mulai rontok. Anak saya yang selalu mengambil helai-helai rambut saya yang bertebaran di lantai. Saya menatap cermin, rambut saya mulai menipis. Saya terlihat sakit dan lemah. Daripada terus-terusan melihat rambut saya jatuh dari kepala saya, saya mengambil keputusan untuk mencukur habis semua rambut yang tumbuh di kepala saya.

Dukungan terus diberikan oleh keluarga, teman, dan tetangga. Mereka selalu memberi semangat kepada saya selama proses kemoterapi yang sangat menyiksa. Mereka juga terus mengingatkan saya untuk minum obat terapi hormon setiap hari selama sepuluh tahun. Namun, sumber kekuatan yang paling utama muncul dari anak saya yang berusia 2 tahun saat itu. Saya tidak mau makan asupan nutrisi yang dianjurkan oleh dokter. Saya harus makan makanan seperti putih telur dan sari ikan kutuk. Rasanya yang tidak enak dan baunya yang amis membuat saya mual. Tapi kala itu, ia memberikan makananannya kepada saya seraya berucap, “Ayo Ma, kita minum bareng.”

Saya pun menahannya, “Jangan, Nak. Rasanya tidak enak.” Namun anakku tetap memaksa untuk ikut makan, “Mama makan, aku juga makan. Ayo kita makan ini bersama supaya mama tidak sendirian.” Saya langsung tersentak, betapa inginnya anak saya ingin saya sembuh sampai dia ingin ikut merasakan pahitnya makanan itu. Saya langsung merasakan kekuatan untuk melawan penyakit kanker ini. Saya ingin berjuang agar bisa sembuh dan terus bisa bersama anak-anak saya. Kita harus semangat dan kuat melawan kanker payudara. Kita tidak sendirian

Sumber : http://artikel.allianz.co.id/agen/detail-article/-Kisah-Perempuan-Hebat-Yang-Tak-Lelah-Melawan-Kanker-Payudara–4269


Gabung ke News Letter Kami

Dapatkan info & artikel menarik tentang Kanker Payudara